Mahasiswa dan Kemajuan Bangsa

Ani Fitriyasih Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam Semester Empat

 

Ada sebuah kata mutiara yang kurang lebih berbunyi “Masa Depan Sebuah Bangsa Ada di Tangan Pemuda”. Dari kata mutiara tersebut sudah jelas sekali bahwa para pemuda memiliki peran penting dalam proses kemajuan bangsa ini. Tentu saja para pemuda yang berpendidikan tinggi dan mempunyai pengetahuan luas serta dibarengi dengan skill atau kemampuan yang memadai dalam menciptakan inovasi-inovasi baru sebagai pendorong untuk memajukan bangsa.

Sejak era reformasi, dari segi ekonomi negara kita sudah berhasil melewati berbagai jenis perubahan dengan peran mahasiswa yang sangat penting didalamnya dan sekarang perubahan dunia berupa revolusi industri 4.0 merupakan perubahan terbesar saat ini yang akan besar pengaruhnya dalam kamajuan sebuah negara. Sehingga peran mahasiswa sebagai Agent of Change  akan  diuji kembali dalam menentukan nasib negara Indonesia selanjutya. Terkhusus pada mahasiswa sejarah yang bisa disebut sebagai “pembelajar masa lalu”. Beragam peristiwa dari masa lalu seperti peristiwa-peristiwa revolusi (Revolusi Inggris) dimana tenaga kerja manusia mulai digantikan oleh tenaga mesin. Hal seperti ini tentu sudah banyak dipelajari oleh mahasiswa sejarah dan seharusnya menjadi tolak ukur atau batu loncatan untuk memandang masa depan yang jauh lebih maju dan gemilang bangsa ini (Putra https://geotimes.co.id/opini/revolusi-industri-4-0-dan-arah-baru-pergerakan-mahasiswa/, akses 19 Mei 2020)

Seperti yang kita ketahui bahwa Revolusi Industri sudah terjadi dari abad ke-18 mulai dari revolusi industri 1.0 yang ditandai dengan peralihan tenaga manusia menjadi tenaga mesin hingga revolusi industri 4.0  yang sekarang ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Revolusi industri secara fundamental selalu mengarah pada perubahan yang lebih baik dan sangat menguntungkan selama kita dapat beradaptasi terhadap perubahan itu sendiri. Sebaliknya akan merugikan jika kita mengabaikan perubahan tersebut dan tetap berpegang teguh pada keadaan yang ada saat itu. Negara membutuhkan adanya agen yang menjadi  penuntun negara Indonesia dalam menghadapi revolusi 4.0 yaitu Mahasiswa berada dalam posisi yang sangat strategis karena dianggap sebagai pihak paling terdepan dalam menerima perubahan global berupa teknologi yang semakin canggih. Oleh karena itu perlu ada peningkatan di sektor kualitas lulusan perguruan negeri demi terciptanya generasi yang berkualitas.

Kemudian, yang tidak bisa dipisahkan dari segi ekonomi adalah politik. Jika ekonomi mengajarkan cara menggapai kemakmuran dan kesejahteraan, maka politik hadir untuk menegakkan keadilan. Membangun bangsa merupakan tugas mulia, mengupayakan perubahan dan kemajuan (progress) di segala bidang untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. Indonesia telah menerapkan berbagai macam sistem politik dan sistem ekonomi. Setelah 70 tahun merdeka, pencapaian Indonesia relatif tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Padahal, kebanyakan negara yang merdeka setelah Perang Dunia II memulai pembangunan pada titik pijak yang hampir sama. Mengapa Korea dan Macan Asia lainnya mampu tumbuh pesat sehingga telah menyandang status negara maju dan di lapisan kedua seperti Malaysia dan Thailand telah menyandang negara berpendapatan menengah-atas, sedangkan Indonesia masih di kelompok negara berpendapatan menengah-bawah?

Ada yang berpandangan tidaklah layak membandingkan Indonesian dengan Macan Asia yang penduduknya relatif kecil dan wilayahnya tak seluas Indonesia. Dibandingkan dengan China pun, Indonesia sudah tertinggal dan kian jauh. India yang penduduknya lebih satu miliar jiwa belakangan ini terbukti menikmati pertumbuhan tertinggi di dunia (Basri https://faisalbasri.com/2016/05/13/membangun-bangsa-melalui-budaya-politik-sehat1/, akses 19 Mei 2020).

Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa ini memiliki sejarah yang kelam pada tahun 1965. Sayangnya apa yang terjadi sebenarnya sama sekali belum terungkap hingga saat ini. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengungkap serta meluruskan fakta sejarah sudah sepatutnya dihargai, harus diungkap siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang jadi korbannya. Baru kemudian rekonsiliasi serta saling memaafkan akan terjadi setelah kebenaran sejati telah terungkap.

Sebagai negara demokrasi, amat disayangkan ketika parta politik belum bisa menunjukkan perubahan sebagai salah satu pilar utama demokrasi. Perilaku partai-partai ini masih cenderung jauh dari kata sehat dan masih kental dengan oligarki. Pertarungan politik tidak banyak mengedepankan gagasan, apalagi visi jangka panjang bagi kejayaan bangsa. Sentimen ras dan agama dijadikan alat untuk menyudutkan lawan, rasa kebencian dihembuskan untuk mengadu-domba rakyat. Disinilah kemudian para mahasiswa sudah seharusnya menjadi garda terdepan, sebagai penyambung lidah rakyat, mengembalikan tujuan awal demokrasi untuk politik Indonesia yang lebih sehat dengan cara berpartisipasi dalam proses demokrasi dapat terwujud dengan memberikan suara pada proses pemilihan, bagi yang telah memiliki hak pilih. Hal ini menunjukkan kepedulian terhadap bangsa dengan menyuarakan opini yang bertanggung jawab juga dapat membuka ruang diskusi positif demi mencari jalan keluar atas hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Banyak faktor yang menentukan kemajuan suatu negara. Keberhasilan negara-negara yang terhindar dari middle income trap ditentukan oleh tiga faktor utama: kualitas sumber daya manusia (terutama pendidikan dan kesehatan), produktivitas dan teknologi sebagaimana tercermin dari sumbangan produk teknologi tinggi dalam ekspor, dan harmoni sosial. Faktor ketiga sangat ditentukan oleh rendahnya jurang kaya-miskin. Kemudian yang terakhir, sebagai rakyat yang mengaku mencintai bangsa ini, mari bersama-sama kita doakan hal-hal baik untuk kemajuan bangsa kita. Semoga dimasa depan Indonesia bisa menjadi negara maju, dan makmur, serta sejahtera untuk kehidupan seluruh rakyatnya.